21 Mei 2016

Festival Pelajar kota Magelang 2016

Tadi siang, (21/05/2016) di Alun-alun kota Magelang ribuan pelajar se- kota Magelang mulai dari TK sampai SMA hadir memenuhi Alun-alun kota Magelang dalam rangka mengikuti serangkaian acara Festival Pelajar kota Magelang 2016.
Berbagai lomba diadakan untuk memeriahkan Festival Pelajar tahun 2016 ini, diantaranya Lomba kreasi karya daur ulang barang bekas untuk murid SLTP dan SMU, lomba mewarnai untuk siswa TK dan SD, lomba suporter untuk pelajar SD sampai SMU, lomba tarian kolosal dan lomba mewarnai yang di ikuti oleh siswa sekolah taman kanak-kanak- kanak.

Untuk bisa mengikuti serangkaian lomba di Festival Pelajar ini, terbilang cukup mudah dan murah, misalnya untuk lomba mewarnai siswa hanya di pungut biaya 2 ribu rupiah untuk biaya pendaftaran, dan saat pendaftaran ulang uang tersebut di kembalikan lagi oleh panitia, dan para peserta juga masih mendapat snack dan minum. Berbagai hadiah menarik di sediakan dalam festival pelajar ini seperti Laptop, Smartphone dan berbagai hadiah menarik lainnya.
Selain berbagai lomba di atas, dalam acara Festival Pelajar ini juga di Kampanyekan bahaya anti narkoba. Para pelajar di beri penjelasan mengenai bahaya narkoba bagi manusia. Dengan adanya kampanye anti narkoba ini di harapkan pelajar kota Magelang terhindar dari bahaya narkoba. Karena setidaknya setiap hari 10 orang meninggal dunia karena kecanduan memakai narkoba.

Selain kampanye bahaya narkoba, pihak penyelenggara juga mengajak para pelajar yang hadir untuk tetap optimis, tetap semangat belajar dan mempunyai cita- cita yang tinggi dan menjauhi hal-hal hal negatif yang akhir-akhir ini sedang semarak terjadi di kota-kota besar di Indonesia, yaitu pergaulan bebas dan tawuran pelajar.
Kebetulan saya tadi siang juga hadir bersama istri di Alun-alun kota Magelang ikut menyaksikan acara Festival Pelajar 2016 ini, sambil menemani Putri kecil saya Disa ikut lomba mewarnai. Sebenarnya acara semacam ini terlalu berat untuk anak saya yang masih berumur tiga tahunan, tapi karena anaknya ngotot pengen ikut lomba bersama teman-temannya, ya terpaksa kami ikut daftarkan dalam lomba mewarnai. Hasil mewarnai Disa anak saya agak berantakan, dan kurang rapi. Karena tidak ada persiapan seperti anak yang lainnya, karena krayonnya aja beli saat acara di mulai. Tapi setidaknya dengan mengikuti Lomba mewarnai ini anak kami jadi tambah pengalaman, tambah berani tampil di depan khalayak banyak.

02 Mei 2016

Masjid Al-Falaah Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta

Selain untuk tempat ibadah warga Jongkang dan sekitarnya, Masjid Alfalaah ini juga di pakai untuk mengaji anak-anak di sore hari. Remaja masjidnya juga termasuk aktif memakmurkan masjid dengan menyelenggarakan kegiatan rutin saat peringatan hari-hari besar Islam. Ternyata Masjid Alfalaah ini juga aktif di media sosial, berinteraksi dengan warga. Mensosialisasikan kegiatan masjid di Twitter dan Facebook.
Jalan Tentara Pelajar, merupakan salah satu jalan tersibuk di Sleman selain Jalan Kaliurang. Setiap hari ribuan kendaraan hilir mudik melewati jalan ini, Berbagai tempat usaha juga banyak berdiri di sepanjang jalan, dari Angkringan, Warung makan Tradisional, Berjejer-jejer minimarket seperti Indomaret, Alfamart, Circle K sampai Restoran dan Hotel berbintang ada di sepanjang Jalan Tentara Pelajar ini. Bahkan lebih dari itu, Panti Pijat sampai tempat Karaoke juga ada. Boleh di kata segalanya bisa di dapatkan dengan gampang dan mudah di sepanjang jalan ini, selagi ada uang. 

Selain bejejer-jejer tempat hiburan, Hotel, Minimarket yang dapat kita temui dengan mudahnya di sepanjang Jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman ini, Di sepanjang Jalan ini juga terdapat banyak Masjid dan Mushola, hampir setiap 500 meter terdapat Masjid. Yang mengagumkan hampir setiap waktu Shalat tiba masjid-masjid tersebut selalu ramai oleh jamaah yang akan menjalankan kewajiban Shalat, sembari beristirahat setelah istirahat setelah lelah dengan rutinias sehari-hari.

Salah satu Masjid yang ada di Jalan Palagan Tentara Pelajar tersebut adalah Masjid Al-Fallaah Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Saat waktu Shalat tiba, terutama waktu Shalat Dhuhur, Masjid ini selalu ramai oleh jamaah menjalankan Shalat Dhuhur. Bahkan jamaah shalat Subuh juga tidak kalah banyaknya, malah lebih banyak di banding dengan waktu shalat seperti Maghrib maupun Isyak.

Arsitektur Masjid Alfalaah ini tidak beda jauh dengan umumnya masjid-masjid di Yogyakarta, berbentuk limasan dengan atap berundak. Tidak tahu kapan masjid Alfalaah ini di bangun, melihat bangunannya masjid sudah cukup lama di bangun, akan tetapi karena terawat dengan baik membuat masjid ini masih terlihat bagus dan selalu bersih. 

Beribadah Masjid Alfalaah Jongkang ini sangat nyaman, tidak usah khawatir kepanasan. karena selain beberapa kipas angin yang ada setiap pojok ruangan, Masjid ini juga telah di lengkapi dengan AC yang menyala di setiap waktu shalat tiba. 

Selain untuk tempat ibadah warga Jongkang dan sekitarnya, Masjid Alfalaah ini juga di pakai untuk mengaji anak-anak di sore hari. Remaja masjidnya juga termasuk aktif memakmurkan masjid dengan menyelenggarakan kegiatan rutin saat peringatan hari-hari besar Islam. Ternyata Masjid Alfalaah ini juga aktif di media sosial, berinteraksi dengan warga. Mensosialisasikan kegiatan masjid di Twitter dan Facebook. 

24 April 2016

Dari Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016

Untuk ke empat kalinya, sejak tahun 2010 Jagongan Media Rakyat di gelar kembali di Jogja National Museum Yogyakarta. Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di selenggarakan oleh Combine Resource Institution yang bekerja sama dengan beberapa komunitas yang ada di Indonesia. JMR merupakan ruang pertemuan berbagai pihak untuk membahas isu-isu sosial kemasyarakatan dengan informasi sebagai mediumnya. Dengan semangat berkumpul, berbagi, bergerak, para penggerak komunitas di harapkan bisa memberikan kontribusi positif bagi perubahan sosial yang lebih baik.

Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 ini berlangsung dari tanggal 21- 25 April 2016 melibatkan 30 lembaga dan komunitas, menghadirkan 51 diskusi dan workshop, 34 diskusi dan pemutaran film, dengan jumlah pengunjung mencapai 2500-an turut berpartisipasi selama JMR ini di gelar.

Menyuguhkan 25 isu bahasan yang di klasifikasikan ke dalam 3 klaster, yaitu inovasi, advokasi dan literasi. Tema Inovasi yang di angkat adalah perkotaan, kebencanaan, ekonmi kreatif dan teknologi informasi. Untuk Advokasi meliputi desa, lingkungan, heritage, hukum dan Ham, maritim, pertanian, masyarakat adat, perlindungan anak, difabel dan kesehatan. Sedangkan untuk issu Literasi meliputi jurnalisme, ekonomi mandiri, literasi media, media baru, seni, aktifisme sosial, penerbian independen.

Kemaren siang (23/04/2016) saya akhirnya bisa menginjakan kaki di Jogja National Museum yang ada di jalan Prof Amri Yahya, Yogyakarta. Mengikuti rangkaian acara Jagongan media Rakyat (JMR) 2016. Sebenarnya sudah dari  beberapa tahun yang lalu saya pengen ikut JMR ini, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, saya hanya bisa mengikuti acara JMR ini lewat sosial media saja. Karena JMR ini kebetulan pas di Jogja dan ada waktu luang, maka saya sempatkan untuk bisa hadir di acara JMR ini, belajar dari orang- orang hebat membangun Indonesia dari Komunitas yang mereka bangun.

Salah satu orang- orang hebat tersebut adalalah Mas Dhandy Dwi Laksono, beliau adalah penggagas komunitas Ekspedisi Indonesia Biru, berkeliling Indonesia dari Aceh sampai Papua selama setahun penuh, dengan hanya mengendarai sepeda motor tua. Mendokumentasikan kehidupan orang- orang pinggiran yang tidak tersentuh lajunya pembangunan.

Kata Mas Dhandy, masih banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang tetap mempertahankan cara- cara lama dalam kehidupannya sehari- hari di tengah gegap gempitanya kemajuan jaman. Salah satunya adalah kelompok masyarakat di Ciptagelar, Jawa barat. Masyarakat di sana menanam padi setahun hanya sekali, tapi hasil panennya bisa untuk stok selaama tiga tahun lamanya. Dan hukum adat di sana melarang beras hasil panennya untuk di jual.

Sangat kontras sekali dengan sistem bercocok tanam saat ini yang sudah moderen, setahun bisa panen sampai tiga kali tapi tetap saja tidak mencukupi. Selain pantangan menjual hasil panennya, menjual tanah juga hal yang tabu untuk di lakukan sejak nenek moyang mereka dulu.

Dan masih banyak pengalaman menarik lainnya yang mas Dhandy bagikan ke peserta JMR yang hadir dalam diskusi rembug prakarsa ' menjelajahi inisiatif, menganyam kemandirian komunitas. Selain Mas Dhandy, ada juga Mas M. Hatta dari radio Komunitas MGM FM Borobudur, Mbak Milla Rosinta, seorang penari dan koreografer profesional,  ada juga Mas John Mamba dari Credit Union Gemalaq Kemisiq.

Sebenarnya masih banyak diskusi dengan tema menarik yang sayang untuk di lewatkan, tapi karena harus kembali beraktifitas di tempat kerjaan, saya langsung pulang setelah acara Rembug Prakarsa selesai.

Bagi anda yang belum sempat hadir di JMR 2016 ini, silahkan merapat ke Jogja National Museum Gampingan, Yogyakarta. Karena hari ini adalah hari terakhir.

10 April 2016

Festival Kuliner Magelang 2016

Seperti daerah lain di Jawa tengah, kota Magelang juga memiliki banyak kuliner khas yang tidak bisa di dapatkan di daerah lain. Mungkin bisa kita mendapatkannya di daerah lain tetapi rasa dan sensaninya tidak sama apabila kita menikmatinya di daerah asalnya.

Kuliner khas Magelang bisa kita temukan di sentra- sentra kuliner yang terdapat di beberapa tempat di kota Magelang seperti daerah Alun- alun, Jendralan, kawasan taman Badakan, sekitar pasar Rejowinangun dan banyak yang lainnya.

Bagi para wisatawan yang sedang berkunjung ke Magelang, tentunya tidak punya cukup waktu untuk bisa mengunjungi sentra- sentra kuliner tadi, karena terbatasnya waktu. Beberapa tempat kuliner tadi ada yang bukanya mulai malam hari.
Tapi bagi anda yang sekarang kebetulan sedang liburan ke Magelang, tidak susah repot- repot datang ke sentra- sentra kuliner tadi, karena dari tanggal 8- 10 April lalu, Pemerintah daerah Kota Magelang kembali mengadakan Festival Kuliner 2016.

Seperti Festival Kuliner tahun- tahun sebelumnya acaranya diadakan di Gedung Bakorwil ll eks Karesidenan Kedu. Selain beraneka macam kuliner dan oleh- oleh khas Magelang bisa kita temukan di sini. Seperti Kupat Tahu Blabak, Bakso Kerikil, Nasi Lesah dan lain sebagainya.

Selain beraneka macam kuliner Khas Magelang yang bisa kita nikmati, dalam Festival Kuliner ini juga ada pameran produk- produk UMKM Magelang, seperti Batik, Tas, Dompet kulit, macam- macam cendera mata dan lain- lain.
Festival Kuliner ini gratis untuk umum, namun untuk menikmati aneka kuliner yang ada di sana tentu harus bayar :), buka mulai jam 09:00 S/D jam 21:00. Selain bisa wisata kuliner dan melihat- lihat beraneka ragam produk UMKM kota Magelang, kita juga menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian daerah Magelang yang di gelar setiap hari selama acara berlangsung

06 April 2016

Pengalaman pakai Go-Jek di Jogja

Pengalaman pakai Go-Jek di Jogja dari Alfamart Tentara pelajar Sleman menuju Alfamart Hayam Wuruk Yogyakarta

Sudah lama Go-Jek masuk Jogja, setelah sebelumnya hadir di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Dengan berbagai tawaran yang menggiurkan seperti tarifnya yang relatif lebih murah di banding dengan tarif ojek konvensional. Misal untuk jarak tiga kilometer, ojek konvensional biasanya mengenakan tarif 15 ribu Rupiah, dengan Go-Jek kita hanya  dikenakan tarif 10 ribu rupiah saja. Walaupun tarif tersebut hanya di awal-awal saja, sekarang ini tarif Go-Jek tidak beda jauh dengan ojek konvensional.

Walau sekarang tarifnya tidak beda jauh, tapi karena mudah dan praktis karena hanya tinggal pesan lewat aplikasi di handphone bisa langsung terhubung dengan driver yang dengan cepat menjemput, Go-jek masih tetap jadi pilihan.

Karena ramainya testimoni positif tentang Go-Jek di media sosial, dan jalan-jalan Jogja sudah berseliweran driver Go-Jek hilir mudik mengantarkan penumpangnya. Akirnya sayapun ikut menggunakan aplikasi Go-Jek, Aplikasinya mudah di gunakan bahkan oleh orang  awam sekalipun. Lebih praktis karena  kita bisa top up Gojek Kredit via ATM, Mobile Banking, ataupun Internet Banking. Kita tidak perlu khawatir driver Go-Jeknya tidak punya uang kembalian.

Pertama kali menggunakan jasa Go-Jek dari Jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman  menuju Jalan Hayam Wuruk Yogyakarta, saya lihat untuk jarak yang lumayan jauh tersebut saya hanya mengeluarkan 14 ribu rupiah saja. Drivernya waktu itu bernama mas Dwi Cahyo Nugroho, orangnya ramah dan asyik, sepanjang perjalanan mas Cahyo banyak bertanya tenang asal usul saya, dimana saya bekerja dan lain sebagainya dengan bahasa Jawa alus.

Sebaliknya  sayapun bertanya tentang keseharian mas Cahyo sebagai driver Go-Jek,  Mas Cahyo selain menjadi pengemudi Go-Jek, juga nyambi kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.  Dengan menjadi pengemudi Go-Jek setiap harinya mas Cahyo bisa mengantongi duit 100ribu sampai 300 ribu rupiah, tergantung sepi ramainya penumpang. Biasanya di hari libur dan akhir pekan saat dia panen penumpang.

Semenjak adanya layanan jasa ojek online Go-Jek ini, banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi pengemudi Go-Jek, yang tadinya nganggur banyak yang beralih dengan menjadi pengemudi Go-Jek. Mereka yang masih karyawanpun banyak yang mengisi waktu luangnya selepas kerja dengan menjadi pengemudi Go-Jek. Salah satunya adalah  mas Agung, setiap harinya mangkal menunggu orderan pengguna Go-Jek di salah satu minimarket yang ada di jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman. Sebelum menjadi pengemudi Go-Jek, mas Agung ini adalah salah satu karyawan perusahaan telekomunikasi terkenal di Jogja.

Setelah beralih menjadi pengemudi Go-Jek penghasilannya lumayan cukup di banding saat dia masih di perusahaan telekomunikasi dulu, dan kerjanya terbilang cukup santai. Hanya mantengin Handphone, menunggu orderan masuk. Bahkan kalau lagi ramai, gajinya di tempatnya kerja dulu bisa di dapatkannya di Go-Jek dalam seminggu saja.

Dengan adanya jasa Ojek online seperti Go-Jek ini, tentunya bisa mengurangi jumlah pengangguran di tengah gelombang PHK massal di mana-mana. Bisa menjadi sambilan untuk menambah penghasilan setelah jam kerjanya selesai sebagai karyawan. Bagi penumpang seperti kami-kami ini adalah semakin banyak pilihan dengan tarif yang jelas, tidak perlu tawar-menawar harga, bayarnyapun bisa lewat Go-Jek Credit tidak perlu uang cash, lebih aman karena semua data pengemudinya tercatat di database Go-Jek.

Jalan-jalan ke Pantai Depok Yogyakarta

Jalan-jalan ke Pantai Depok Yogyakarta
Jangan khawatir kehabisan tempat yang bisa anda kunjungi saat liburan ke Yogyakarta, Karena Jogja tidak hanya Keraton, Malioboro ataupun Tugu Jogja saja. boleh di bilang setiap jengkal wilayah di Yogyakarta menyimpan banyak tempat wisata baru yang bisa anda kunjungi, baik itu wisata budaya, wisata sejarah maupun wisata kuliner. Karena setiap bulan banyak bermunculan tempat baru yang menarik untuk di kunjungi.

Bosen dengan wisata budaya dan sejarah yang identik dengan Yogyakarta, Kita bisa berkunjung ke Gunung Kidul ataupun Bantul di selatan Yogyakarta yang merupakan surganya wisata alam, seperti pegunungan, gua, pantai dan situs-situs peninggalan sejarah jaman dahulu.
Jalan-jalan ke Pantai Depok Yogyakarta
Ngomong-ngomong tentang pantai, salah satu pantai di Yogyakarta yang paling sering di kunjungi oleh wisatawan adalah pantai Parangtritis yang terkenal dengan ombaknya yang besar dan juga cerita mistis turun temurun yang beredar luas di masyarakat Yogyakarta bahkan masyarakat Jawa. Yaitu tentang cerita Nyai Roro Kidul yang konon berdomisili di Pantai selatan pulau Jawa yaitu Parang Tritis.

Cerita tentang pantai Parangtritis pernah saya tulis disini, Bosen dengan suasana pantai Parangtritis kita bisa menikmati pantai Depok yang letaknya tidak jauh dari Parangtritis, kira-kira jaraknya hanya satu setengah kilometer  dari pantai Parangtritis. Sepanjang perjalanan dari Parangtritis kita bisa menyaksikan gumuk pasir, yang konon katanya hanya ada di Yogyakarta.

Pantai Depok tidak beda jauh dengan pantai Parangtritis karena letaknya yang berdekatan, tetapi pantai Depok ombaknya lebih bersahabat di banding Parangtritis. Selain itu di Pantai Depok ini, banyak kita jumpai nelayan tradisional yang setiap harinya menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di sini. Jadi selain keindahan pantai yang bisa kita nikmati kita juga bisa membeli ikan segar langsung dari nelayan yang baru pulang melaut. 

Jalan-jalan ke Pantai Depok Yogyakarta
Konon dahulu pantai Depok ini hanya pantai biasa yang tidak begitu terkenal seperti sekarang, tapi sejak ada nelayan dari daerah lain yang terdampar di pantai ini dengan hasil tangkapan ikan yang banyak, maka banyak warga sekitar pantai Depok yang beralih profesi menjadi nelayan, meninggalkan pekerjaan mereka semula sebagai penambang pasir. Dan sejak saat itu pantai Depok berubah menjadi ramai, banyak bermunculan restoran dan rumah makan baru, dengan menyajikan hidangan hasil laut tangkapan para nelayan sekitar pantai Depok. 

Selain banyaknya restauran seafood yang bisa kita temui di sepanjang pantai ini, di pantai Depok juga ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang setiap harinya menjadi ajang transaksi hasil laut hasil tangkapan nelayan pantai Depok, Hasil tangkapan ikan nelayan tersebut di beli para pedagang di sekitar Depok, juga banyak di borong wisatawan yang berkunjung. Karena harga ikan di sini harganya terbilang cukup murah di banding membelinya di tempat lain, apalagi kalau kita pandai menawarnya, semakin banyak ikan yang bisa kita bawa pulang dengan harga murah.
Jalan-jalan ke pantai Depok Yogyakarta
Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke Pantai Depok bersama teman-teman satu kerjaan, setelah sebelumnya singgah terlebih dulu di pantai Parangtritis. Setelah puas menikmati pemandangan di Parangtritis, acara kami lanjutkan ke pantai Depok, sambil menunggu waktu makan siang tiba. Di sela-sela menunggu hidangan seafood yang kami pesan di salah satu restauran yang ada di sana, kami sempatkan untuk melihat-lihat proses transaksi jual beli ikan disana dan tentu saja beli oleh-oleh untuk di bawa pulang. Menikmati aneka hidangan seafood sambil menyaksikan deburan ombak dan perau nelayan di kejauhan, sesekali di selingi dengan hembusan sepoi-sepoi angin pantai yang menyejukan, seakan segala beban kerjaan sedikit berkurang. Jadi kalau anda berkunjung ke pantai Parangtritis, jangan lupa mampir juga ke pantai Depok ya :)
Posted on Rabu, April 06, 2016 | Categories: