03 April 2007

Kenapa Harus Alergi Politik di toko?

Kenapa Harus Alergi Politik toko?
Kalau pegawai toko macam Saya ini ditanya, hal apa yang paling tidak dibenci di toko? Rasanya, jawabannya adalah permainan politik di toko. Ya, mulai dari pejabat bintang 234* sampai pramuniaga tidak menyukai politik toko. Jangankan politik toko, mendengar kata politik saja sudah menimbulkan bayangan yang jelek. Entah apa salah “politik” sehingga begitu dibenci bahkan sering dianggap hal yang menjijaykan.
Pak Bos sendiri biasanya dengan sinis mengatakan, “Ah, itu hanya politik orang-orang saja. Saya nggak suka begitu-begituan.” Lha, kalau Pak Bos sendiri nyinyir dengan politik toko, kami juga iccuuuttt.
Citra buruk politik mungkin timbul karena kita terlalu banyak melihat perilaku tokoh politik dalam menjalankan peran politiknya. Dalam bayangan orang awam, berpolitik sama dengan berbohong, berkhianat, janji-janji semanis madu tapi gombal, menipu, menekan, memaksa, mengintimidasi, hipokrit alias munafikun, hanya bisa berdebat dan bersilat lidah, jalan-jalan menghabiskan duit rakyat, dan bermacam gambaran lain. Nggak salah kalau seorang politikus diasosiasikan dengan tikus. Alasannya simple, karena ada kata tikusnya. Coba politikar pasti gambarnya tikar. Atau, politimun maka gambarnya timun.


***

0 komentar:

Posting Komentar