30 Agustus 2011

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri,Mohon maaf lahir dan bathin untuk yang merayakannya hari ini atau besok tanggal 31 Agustus,saya sebagai warga Nahdlatul Ulama akan merayakannya besok.

Mengenai polemik tentang perbedaan hari raya Idul Fitri yang terjadi saat ini rasanya tidak perlu di besar-besarkan,karena perbedaan tersebut harusnya menjadikan kita untuk bisa saling menghargai satu sama lain.bukan malah mencari siapa yang salah atau benar.seperti yang kita lihat di pemberitaan-pemberitaan,bahkan di status jejaring sosial salah satu ormas keagamaan.

Waktu jalan di sekitar alun-alun Magelang saya merasa terharu melihat spanduk di Klenteng Liong Kok Bio yang berbunyi 'selamat Idul fitri dan selamat menunaikan puasa ramadhan' yang di sertai dengan kata-kata persatuan dan kesatuan umat beriman.

Kadang saya iri melihat tokoh-tokoh agama lain menyelamati para ulama kita saat Idul fitri tiba.seharusnya para pemimpin umat kita memberi ucapan selamat bila salah satu dari kita merayakan Idul fitri lebih dulu.

3 komentar:

  1. RIWAYAT KELENTENG LIONG HOK BIO, SAKSI SEJARAH KOMUNITAS TIONGHOA DI MAGELANG . . . . . . . . .

    Perkembangan dan sejarah masyarakat Tionghoa di Kota Magelang tdk bs terlepas dr peran keberadaan Kelenteng Liong Hok Bio. Kelenteng sendiri letaknya ada pd sisi tenggara dr Aloon-aloon kota Magelang atau di 'pintu gerbang' masuk ke kawasan Pecinan. Riwayat pendirian kelenteng dpt di baca pd info yg tertempel pd dinding kantor kelenteng. Menurut catatan tsb diceritakan bhw kelenteng tsb didirikan pd thn 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Tjok Lok. Nah utk menceritakan lebih lanjut dr kelenteng mk hrs lebih dahulu mengetahui riwayat Twa Pek Kongnya dulu (Twa Pek Kong artinya patung dewa yg dipercaya menjadi tuan rumah dr kelenteng tsb). Sebagaimana diketahui pd th 1740, pemerintah Belanda melarang kedatangan para imigran dr Tiongkok dan mereka yg tdk memiliki izin kerja dideportasi ke Ceylon dan Semenanjung Harapan. Peraturan ini menciptakan keresahan di kalangan orang2 Tionghoa yg sering terkena pungli oleh pejabat Belanda. Utk menghindari nasib yg semakin buruk, orang2 Tionghoa di Batavia mengadakan pemberontakan. Tentu sj dg kekuatan tentara yg dilengkapi dg bedil. Belanda dpt menindas pemberontakan ini. Sbg akibatnya sekitar 10 ribu orang2 Tionghoa di Batavia dibunuh dibunuh dan di aniaya. Utk menyelamatkan diri, bnyk orang2 Tionghoa lari dr Batavia ke berbagai kota di pesisir timur laut Jawa Tengah, seperti ke Semarang, Jepara dan Lasem di Rembang. Termasuk lari meminta perlindungan ke Kasunanan Surakarta tp sayangnya tdk terlaksana

    Nah ada sekelompok rombongan kecil telah sampai di daerah Kedu Selatan dan bertempat tinggal di desa Klangkong Djono, sebuah desa yg ada di selatan Kutoarjo (skrg disebut dg nama desa Jono). Pd waktu itu orang2 Tionghoa masih taat kpd keyakinannya, terutama pemujaan thd Twa Pek Kong. Mk sewaktu mereka mengungsi tdk lupa Twa Pek Kong tsb di bawa jg ke desa Djono. Twa Pek Kong tsb adlh Dewa Bumi yaitu Hok Tek Tjen Sin (Tho Tee Kung). Kondisi demikian menjadikan desa ini mjd tentram dan damai. Masyarakat bekerja dg berbagai mata pencaharian, seperti membuat terasi, menenun kain dan perdagangan kecil lainnya. Hingga pd saat terjadinya perang Diponegoro pd tahun 1825 ternyata menjalar jg sampe ke wilayah Kedu Selatan. Shg hal ini membawa dampak buruk thd keberadaan masyarakat Tionghoa yg tinggal di desa Djono tsb. Mk terjadilah keonaran yg di sebabkan oleh para orang2 yg tdk bertanggung jawab dg merampok warga desa. Melihat hal ini, pemimpin masyarakat Tionghoa di desa Djono yg bernama The Ing Sing dan bergelar Bu Han Lim dr Tiongkok melakukan perlawanan. Meski pd awalnya sanggup bertahan thd upaya para pembuat keonaran tsb, tp lambat laun keberadaan mereka mjdi terdesak. Yg hal ini memaksa mereka utk meninggalkan desa Djono menuju arah timur laut. Nah rombongan ini berusaha menembus benteng perbukitan Menoreh Salaman Magelang yg pd saat itu masih berwujud hutan belantara. Setelah berhasil melewati perbukitan yg terjal, sampailah rombongan ini di Magelang. Sebagian rombongan tinggal dan menetap di Magelang, tetapi sebagian rombongan memilih melanjutkan perjalanan menuju Parakan di Temanggung. Nah rombongan yg menetap di Magelang memilih tinggal di Ngarakan (sebelah barat Pecinan, skrg sekitar Rumah Makan Pancoran

    BalasHapus
  2. Toleransinya tinggi sekali umat Tridharma di Magelang ini, setiap Ramadhan dan Idul Fitri selalu pasang spanduk ikut mengucapkan selamat kepada umat muslim di Magelang

    BalasHapus