19 Desember 2013

Ngaji ke Koripan, Tegalrejo, Magelang

Kyai Abdul Mukti Koripan, Tegal Rejo, Magelang
Hari Ahad boleh jadi menjadi hari yang sangat spesial dan di tunggu-tunggu oleh semua orang setelah seminggu lamanya bekerja. Melepas penat dan kejenuhan selama seminggu bekerja berangkat pagi dan pulang sore hari. Pergi ke tempat-tempat wisata menjadi alternatif lain bagi sebagian orang untuk menghabiskan waktu libur bersama keluarga. 

Ahad (15/12/2013) saya dan istri sengaja mengajak Dek Disa, putri kami untuk menikmati hari minggu dengan pergi ke Koripan, sebuah dusun di daerah Tegal Rejo, Magelang. Tujuan kami ke Pondok Pesantren An Najah adalah untuk mengikuti pengajian rutin setiap Ahad pagi di pondok pesantren yang di asuh oleh KH Abdul Mukti ini, Pengajian Ahad pagi di Pondok pesantennya Pak Kyai Abdul Mukti ini di ikuti oleh ribuan jamaah baik dari Magelang maupun daerah lain seperti Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Temanggung, semarang dan sekitarnya.

Sebenarnya keinginan untuk bisa ikut pengajiannya Pak Mukti ini sudah lama, tapi baru kesampaian kemaren. saya tertarik dan penasaran dengan pengajiannya pak Mukti ini karena katanya setiap Ahad pengajiannya di ikuti oleh ribuan jamaah, begitu kata tetangga saya yang setiap Ahad tidak pernah absen datang ke Koripan mengikuti ceramahnya Kyai Abdul Mukti. Ternyata yang di omongin tetangga saya itu benar sekali, ribuan jamaah berkumpul untuk mengikuti tausyiahnya Kyai kharismatik dari Magelang ini. 

Saya di buat kagum dengan semangat ribuan jamaah yang datang jauh-jauh ke Koripan untuk bisa mengikuti tausyiahnya Pak Mukti. Tua, muda, lelaki, perempuan, tua, muda bahkan anak-anak dengan penuh antusias dan khidmat mendengarkan petuah-petuah dari sang kyai kharismatik tersebut. Tidak heran bila jamaah pengajian minggu pagi di pondok pesantren An-Najah asuhan Kyai Mukti ini di hadiri ribuan jamaah, karena dakwah beliau tentang kehidupan sehari-hari yang di sampaikan secara lugas, tegas dan mengajak umat untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Beliau mungkin satu-satunya kyai yang mengajak jamaahnya agar tidak masuk dalam golongan ormas keagamaan di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Tetapi cukup islam saja, islam yang sesuai dengan Al-quran, Hadist, Ijma' dan Qiyas. 

Dalam tausyiahnya di Ahad pagi kemaren Pak Kyai Abdul Mukti mengajak kepada para jamaah yang hadir untuk selalu patuh dan taat kepada kedua orang tua, bahkan kalau mereka non muslim sekalipun. tentunya taat dalam hal kebaikan dan bukan taat terhadap hal-hal yang di larang. Hidup di jaman yang serba moderen ini mempunyai anak yang soleh dan solekhah merupakan harta yang tidak terkira. Karena menurut Pak Mukti, untuk bisa mendidik anak-anak kita menjadi soleh dan solekhah perlu ilmu, ilmu yang tidak bisa di peroleh hanya dengan bersekolah di sekolah umum saja. Begitu banyak anak-anak sekarang yang lulusan sekolahan bahkan kuliah tapi tidak mempunyai rasa hormat dan berbakti sama orang tua.

Selain sekolah formal, anak-anak kita juga perlu di masukan ke pondok-pondok pesantren, agar mereka tau ilmu tentang agama yang salah satunya mengajarkan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, seperti kita di wajibkan sebelum dan sesudah bepergian untuk ijin terlebih dahulu sama orang tua dengan cium tangan, kita di larang berjalan mendahului orang tua, tidak boleh membantah, bahkan saat kita di marahin sama orang tua kita kita dilarang untuk menjawabnya. 

Bahkan sampai begitu pentingnya posisi kedua orang tua kita sampai-sampai nabi pernah bersabda bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, Restu orang tua adalah ridlo Allah SWT, begitupun sebaliknya. Menurut pak kyai lagi berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya behenti selama mereka masih hidup saja, tapi juga saat kedua orang tua telah tiada. caranya dengan mendoakan mereka. karena salah satu amalan yang mengalir setelah anak adam meninggal dunia adalah anak soleh yang selalu mendoakannya selain ilmun dan amal jariah. Inshaa Allah doa yang kita panjatkan di terima oleh Allah dan orang tua kita mendapat berkah dari doa-doa kita, selain itu kita juga mendapat pahala atas doa-doa kita.

Mengakhiri tausyiahnya Pak Kyai Abdul Mukti mengajak jamaah untuk selalu bersatu dalam ukhuwah islamiyah dan berdoa untuk kebaikan rakyat dan pejabat Indonesia agar selalu berpegang dalam kebenaran dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beruntung sekali saya bisa mendengarkan tausyiah beliau. Mungkin beliau satu-satunya kyai di Magelang yang pengajiannya di hadiri ribuan jamaah setiap minggunya. Tentunya kita sudah sering menghabiskan waktu liburan di ahad pagi dengan mengunjungi tempat-tempat wisata seperti pantai, candi,  taman dan lain sebagainya. Bagi yang muslim tidak ada salahnya kalau sesekali kita wisata religi ke pondok pesantren ataupun masjid-masjid bersejarah. Selain bisa merefresh jiwa dan raga berpahala pula :) 

29 komentar:

  1. sekali-kali perlu juga dicoba ngaji ke Mangli kang

    BalasHapus
  2. Pengen banget mas, semoga suatu saat nanti bisa menginjakan kaki di Mangli

    BalasHapus
  3. KH.Abdul Mukti Koripan. Tegal rejo Magelang dukung Prabowo-Hatta @prabowo08

    BalasHapus
  4. KH.Abdul Mukti Koripan. Tegal rejo Magelang dukung Prabowo-Hatta @prabowo08

    BalasHapus
  5. KH.Abdul Mukti Koripan. Tegal rejo Magelang dukung Prabowo-Hatta @prabowo08

    BalasHapus
  6. KH. Abdul Mukti Koripan, Tegal Rejo, Magelang: Saya tidak dukung partai apapun, tapi kalau Pilpres saya dukung @Prabowo08

    BalasHapus
  7. KH Abdul Mukthie, pimpinan Pondok Pesantren An-Najach, Koripan, Tegalrejo, Magelang:Jadi jangan lupa, 9 Juli nomer siji dicoblos gambare, nomor loro ditutup kartune

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga ikut anjuran mbah Mukti saat pilpres kemaren, lha terbukti kan sekarang gimana :)

      Hapus
  8. Pilihan tepat memang "PRABOWO - HATTA" , pemersatu ummat , menjunjung tinggi kebhinekaan , tegas , cerdas , jujur , konsekwen , cinta damai dan paling komitment untuk sejahterakan rakyat Indonesia. Semoga Allah meridloi kita .. aamiin

    BalasHapus
  9. Siapapun orangnya jika ia seorang yang "RASIONAL" pasti pilih Prabowo - Hatta untuk selamatkan Indonesia para dracula politik negeri ini

    BalasHapus
  10. doakan anak saya supaya jadi anak yang soleh ya pak kyai

    BalasHapus
  11. AMIN, Semoga anak anda jadi anak yang soleh dan solikhah

    BalasHapus
  12. Saya juga baru sekali mengikuti pengajian itu dan sekarang jadi rutin . entah kenapa jika tidak kesana ada yang masih kurang . mungkin karena dakwahnya yang selalu saya acungi jempol .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang Pak Mukti salah satu ulama di Magelang yang ceramahnya selalu kritis, tidak memihak salah satu golongan tertentu.

      Hapus
  13. jadi inget masa" dian najach dulu waktu mndok sambil sekolah.....
    sungguh suatu k.banggaan tersendiri jadi santrinya bapak kyai mukti.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, mbak Dilla salah satu santrinya pak Kyai Mukti..
      Memang pak Mukti menjadi kebanggaan santri-santrinya maupun jamaah pengajiannya yang tersebar di Magelang dan sekitarnya..

      Hapus
  14. Mbah mangli...ulama karismatik dgn banyak karomah....alfatehaah

    BalasHapus
  15. Mas ikhsan kalo ngaji biasanya di sebelah mana

    BalasHapus
  16. Pak Jokowi hari ini lacf i kunjungan di Tegalrejo Magelang ya

    BalasHapus
  17. Mbah Mangli mah sudah ty udak usah di racf ukan lacf i keI lmuannya ya bro

    BalasHapus
  18. Dulu waktu saya sering kesana rutin.. pengen deh kesana lagi

    BalasHapus
  19. Dulu waktu saya sering kesana rutin.. pengen deh kesana lagi

    BalasHapus
  20. Mbah mangli memamng seoarang ulama besar..dan yg meneruskan pak mukti..mbah mangli aja mengakui bahwa pak mukti yg bakal jdi penerusnya...jgan jdi kisruh yg membedakan kyai 1 dg yang lain..masalah pilpres waktu sby jga didukung..dan mega yg datang juga ditolak..kalian kan hidup di suatu negara klo rakyat mau memilih itu hak..cuma menganjurkan yg mnurut pak mukti lebih baik diantara yg lain..kalah ato menang ttp milih yg baik.."tunggal guru ojo ganggu seje guru bedo ilmu"

    BalasHapus
  21. Saya juga pernah ikut sanlat di An Najach.. 1 bulan selama ramadhan thn 2015, dari bogor kesana alhamdulillah banget, ilmunya masih terus ke-pake sampai skrg. Bangga bisa nyampe disana

    BalasHapus
  22. Saya juga pernah ikut sanlat di An Najach.. 1 bulan selama ramadhan thn 2015, dari bogor kesana alhamdulillah banget, ilmunya masih terus ke-pake sampai skrg. Bangga bisa nyampe disana

    BalasHapus