Masjid Watughenuk, Krasak, Salaman, Magelang

Desa Krasak merupakan salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. letaknya cukup strategis karena di lalui jalan raya utama yang menghubungkan Magelang- Purworejo. Akses warga untuk bepergian lebih mudah karena desa Krasak di lewati jalan raya Propinsi yang menghubungkan Semarang-Purwokerto. Bus- bus besar jurusan Semarang-Purwokerto ataupun Semarang-Cilacap. 

Sebagian besar warga desa Krasak bekerja sehari-hari sebagai petani, pedagang, pekerja bangunan, kerja di sektor transportasi sebagai kernet dan sopir, dan sebagian lagi ada yang meratau ke kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Mereka pulang saat lebaran tiba atau pas ada acara keluarga atau hajat desa seperti Nyadran.

Mayoritas warga desa Krasak beragama Islam, tapi juga ada beberapa penganut Hindu, Kristen dan Katolik dan jumlahnya tidak seberapa banyak, kebanyakan mereka adalah para pendatang yang bekerja dan menetap di Desa Krasak, Walaupun agama Islam menjadi agama mayorias di desa ini, tidak sekalipun terjadi benturan di masyarakat yang berkaitan dengan agama. Mereka tetap hidup guyub rukun dalam kehidupan sehari-hari.

Dusun Karanganyar dan Margosari adalah dusun di Desa Krasak yang warganya masih begitu kuat memegang ajaran Islam, Dua dusun ini merupakan basis massa Nahdlatul Ulama dan Partai persatuan Pembangunan, Salah satu partai yang menjadikan Islam sebagai asasnya. Di dusun Margosari ada sebuah pondok pesantren yang menjadi rujukan bagi warga di Desa Krasak dan sekiarnya belajar agama Islam.

Dahulu di desa Krasak hanya ada satu buah Masjid untuk masyarakat warga desa shalat Jumat, tetapi sekarang hampir tiap dusun memiliki masjid sendiri, bahkan setiap RT di beberapa tempat memiliki Mushola sendiri. Selain untuk tempat ibadah sehari-hari, juga di gunakan sebagai tempat untuk musyawarah warga dan kegiatan sosial lainnya. 

Masjid Watughenuk merupakan Masjid pertama berdiri di Desa Krasak sekitar 200 tahun yang lalu. Masjid Watughenuk terletak di Dusun Krajan, letaknya persis di pinggir Jalan raya Magelang-Purworejo, saat jam-jam shalat tiba tidak hanya warga sekitar saja yang menggunakan untuk shalat tapi banyak juga orang yang sedang dalam perjalanan mampir untuk istrirahat dan shalat. 

Nama Watughenuk di ambil dari kata Watu yang berarti batu dan Genhuk yang berarti gemuk atau besar. Dahulu kala ada sebuah batu yang jatuh dari langit, dan batunya lumayan besar. Batu tersebut jatuhnya tepat dimana Masjid Watughenuk sekarang. Untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan misalnya tempat jatuhnya batu tersebut menjadi ajang kemusrikan, maka para ulama pada waktu itu membangun sebuah masjid tepat dimana batu tersebut jatuh. Watughenuk atau batu Ghenuk tadi akhirnya tertutup oleh bangunan masjid Watughenuk.

Masjid Watughenuk tercatat sudah tiga kali mengalami renovasi, Renovasi terakhir dilakukan sekitar tahun 90-an, Dalam renovasi terakhir ini masjid di buat dengan arsitektur moderen, tapi tetap tidak meninggalkan ciri khas Masjid yang usianya telah ratusan tahun, Empat tiang masjid yang sudah ada dan menjadi bagian dari Masjid Watughenuk puluhan tahun di pertahankan. Dan waktu itu Masjid Watughenuk merupakan masjid termegah yang ada di desa Krasak.

Setiap hari Jumat tiba, masjid selalu penuh oleh jamaah yang akan melaksanakan shalat Jumat, Bahkan ada banyak jamaah dari desa lain yang sengaja datang dan Jumatan di Masjid Watughenuk, Karena mereka percaya kalau shalat di Masjid yang usianya sudah ratusan tahun akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Mungkin ada benarnya juga pendapat mereka, Dengan Shalat di masjid yang usianya ratusan tahun mereka bisa lebih khusuk daripada masjid biasa.

4 komentar: