23 Desember 2014

Kawah Sikidang Banjarnegara

Kawah Sikidang Banjarnegara
Beberapa hari ini Banjarnegara begitu terkenal setelah salah satu  wilayahnya terkena musibah tanah longsor yang mengakibatkan banyak korban, hampir 100 orang meninggal dalam musibah tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. Bahkan Dusun Jemblung sendiri hilang tertimbun tanah. Semoga Arwah korban tanah longsor Dusun Jemblung di terima oleh Allah SWT, dan korban yang selamat di beri ketabahan dalam menghadapi musibah.

Selain Dusun Jemblung di Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar yang sedang berduka dengan adanya musibah terkena tanah longsor, Banjarnegara juga menyimpan banyak tempat wisata yang layak di kunjungi Seperti Obyek Wisata Komplek Candi Arjuna dan Kawah Sikidang di pegunungan Dieng, yang keduanya masih masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara. Kedua obyek wisata tersebut sudah tidak asing lagi bagi wisatawan yang pernah jalan-jalan ke Obyek wisata di Dieng, karena hampir di pastikan kalau mereka jalan-jalan ke Dieng, kedua obyek wisata tersebut menjadi tujuan utama mereka ke Dieng.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman-teman satu kerjaan di Jogja jalan-jalan ke Obyek wisata Dieng, salah satu tujuan utama kami adalah Kawah Sikidang. Sebelum ke Obyek Wisata Kawah Sikidang, kami berkunjung terlebih dahulu ke Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Berbeda dengan Kawah Sikidang yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara, Telaga Warna dan Pengilon masuk wilayah Kabupaten Wonosobo.
Kawah Sikidang Banjarnegara
 Saya dan teman-teman satu rombngan tiba di Kawah Sikidang sudah agak siang, tetapi udara di sekitar Sikidang masih sejuk layaknya pagi hari. Tidak seperti obyek wisata lain di Dieng yang identik dengan pemandangan alam yang hijau, Di sekitar kawah Sikidang kita hanya melihat pemandangan tanah tandus, bau belerang yang menyengat dari kolam yang mengeluarkan asap belerang. Begitu kami masuk ke dalam komplek Kawah kami langsung di kerubuti sama pedagang yang menawarkan masker, bau belerang yang sangat menyengat sangat berbahaya bagi kesehatan apabila tidak menggunakan masker.

Setelah memaki masker, kami lanjutkan masuk ke kawasan kawah Sikidang. Dari pintu masuk ke kolam kawah banyak terdapat bekas kawah kecil, di beberapa titik masih aktif.  kita perlu hati-hati saat menelusuri kawah Sikidang, karena ada beberapa kawah kecil yang masih aktif, dengan air mendidih sampai 100 derajat. Sebelum sampai di kawasan kolam kawah Sikidang ada papan peringatan bagi para pengunjung untuk tidak menyalakan korek api dan di larang merokok. Di kawah utama Sikidang air bercampur dengan lumpur abu-abu yang terus mendidih dan asap putih yang mengepul dengan bau belerang yang menyengat.
Kawah Sikidang Banjarnegara
Yang menarik dari obyek wisata Kawah Sikidang ini selain pemandangan puluhan kawah dan bau belerang yang menyengat adalah warga sekitar kawah yang menggantungkan mata pencahariannya dengan mengumpulkan belerang dan menjualnya ke kota atau di jual di komplek Kawah Sikidang dengan menggelar tikar atau meja kecil layaknya para penjual sayur di pasar tradisional, yang lebih menarik lagi kebanyakan dari mereka tidak memaki masker. Seakan-akan mereka sudah kebal dengan bau belerang. Dan yang memprihatinkan ada juga yang jualan batu belerang sambil menggendong anaknya yang masih balita. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perkembangan anak tersebut nantinya, karena sejak kecil mereka harus menghirup bau belerang setiap hari. Semoga ada pihak-pihak terkait yang memperhatikan hal tersebut, sehingga tidak ada balita yang ikut jualan belerang di kawah Sikidang. Para penjual batu belerang ini menawarkan harga antara seribu sampai lima ribu rupiah perbelerangnya.
Kawah Sikidang Banjarnegara
Sepertihalnya Telaga Warna dan Pengilon, Kawah Sikidang ini juga punya legenda cerita rakyat turun temurun yang masih di percaya oleh masyarakat sekitar. Dan legenda tersebut juga masih ada hubungannya dengan banyaknya anak-anak berambut gimbal di kawasan pegunungan Dieng. Bahkan sampai sekarang belum ada peneliti yang bisa menyimpulkan kenapa anak-anak di Dieng banyak yang rambutnya gimbal.
Konon katanya dahulu kala di Dieng tinggalah seorang Putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Shinta Dewi. Cerita dari mulut ke mulut tentang kecantikan sang putri sampai juga ke telinga Pangeran Kidang Garungan, Seorang pangeran yang terkenal kaya raya pada jamannya. Karena tertarik dengan kecantikan sang putri, Pangeran Kidang Garungan mengutus anak buahnya untuk melamar Putri Shinta Dewi. Dalam bayangan Putri Shinta Dewi, Pangeran Gerungan adalah seorang pangeran yang tampan.

Tapi setelah sang putri menerima lamaran sang pangeran, dan melihat wujud asli sang pangeran yang berbadan manusia dan berkepala Kijang, akhirnya sang putri mengajukan berbagai syarat yang tidak masuk di akal supaya pernikahan mereka gagal. Pangeran Kidang Garungan di minta membuat sumur yang dalam, dan harus di kerjakan seorang diri dalam satu hari, karena kesaktian sang pangeran, sumur tersebut jadi dalam satu hari. Karena kalut permintaannya erwujud dalam sehari, sang putri memerintahkan anak buahnya melempari Pangeran Kidang Garungan yang masih di dalam sumur dengan batu.

Dengan sekuat tenaga dan kesaktiannya Pangeran Kidang Garungan mencoba keluar dari sumur, akan tetapi karena banyaknya batu yang di lempar pengikut putri Shinta Dewi, Pangeran Kidang Garungan akhirnya meninggal. Sebelum meninggal Pangeran Garungan berkata bahwa anak keturunan putri Shinta Dewi nantinya akan banyak yang berambut gimbal. Dan konon kolam kawah Sikidang sekarang ini merupakan tempat sumur pangeran Kidang Garungan di Kubur hidup-hidup.
Kawah Sikidang Banjarnegara
Kawah Sikidang, satu dari puluhan obyek wisata di pegunungan Dieng yang layak anda kunjungi apabila sedang berkunjung ke Dieng, selain bisa melihat kawah yang terus bergejolak tanpa henti dengan bau belerangnya, kita juga bisa menyaksikan tempat terjadinya cerita rakyat yang di percaya kebenarannya secara turun temurun. Entah benar atau hanya sekedar mitos belaka hanya Allah SWT yang maha tahu.

1 komentar:

  1. turut berbela sungkawa atas tragedi longsornya dusun jumblung banjarnegara

    BalasHapus