Tradisi Nyadran di Dusun Gejiwan

Nyadran di Dusun Gejiwan
Nyadran, salah satu tradisi turun temurun yang sudah berlangsung ratusan tahun lalu dan sampai saat ini masih di laksanakan  oleh dusun ataupun desa yang ada di Kabupaten Magelang, dan Jawa tengah pada umumnya. Nyadran di laksanakan setiap bulan Sya'ban, sebelum bulan Ramadhan tiba. pada awal mulanya dahulu kala Nyadran adalah tradisi agama Hindu untuk memberikan sesajen atau sesembahan kepada nenek moyang yang telah tiada dengan cara membawa berbagai aneka macam makanan ke makam.

Seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya agama Islam ke nusantara, Tradisi nyadran masih tetap di pertahankan dan berlangsung hingga saat ini. Akan tetapi hanya tata caranya yang berbeda. Kalau dahulu sebelum datang agama Islam, Nyadran adalah membawa sesembahan untuk nenek moyang yang telah tiada. Tetapi dengan hadirnya agama Islam Nyadran adalah  berdoa dengan membaca tahlil bersama-sama di makam dusun untuk mendoakan nenek moyang yang meninggal, dan di akhiri dengan makan bersama di balai dusun dan biasanya saat pulang mereka masih dapat bingkisan makanan ataupun yang sering di sebut juga dengan berkat.

Aktifitas nyadran tidak hanya berhenti setelah berdoa bersama membaca tahlil di makam saja, akan tetapi masih berlanjut dengan berkunjung ke sanak saudara yang masih menetap di dusun tersebut. Karena tradisi nyadran tidak hanya di ikuti oleh warga lokal saja. Akan tetapi di ikuti oleh warga luar dusun bahkan luar daerah yang masih mempunyai keluarga ataupun nenek moyang yang di makamkan di dusun tersebut.

Karena pentingnya tradisi Nyadran ini, banyak para perantau yang telah menetap dan tinggal di daerah bahkan kota lain, di bela-belain pulang untuk bisa mengikuti tradisi Nyadran, berdoa bersama membaca tahlil di makam leluhur mereka sebagai wujud rasa cinta dan bakti mereka kepada leluhur, terutama kepada orang tua yang telah tiada.

Hiruk pikuk Nyadran juga berlangsung di tempat kelahiran saya, Dusun Gejiwan, Desa Krasak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Tradisi Nyadran di Dusun Gejiwan berlangsung pada hari Minggu (24/05/2015) yang lalu. Tradisi Nyadran di Dusun Gejiwan di laksanakan setiap tahunnya pada hari Minggu pertama di bulan Sya'ban.

Acara Sadranan di Dusun Gejiwan ini di mulai sekitar jam 09:00 pagi. mereka berkumpul di makam dusun berdoa membaca tahlil, Surat Ikhlas, Surat Yasin di makam orang tua dan kerabat dekat mereka, memohonkan ampunan dan berdoa agar keluarga mereka yang telah meninggal mendapat ampunan dan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Setelah agak siang semua warga berdoa bersama membaca Tahlil dan Surat Ikhlas yang di pimpin oleh Kyai Baihaqi, salah satu ulama terkenal di desa kami.

Setelah acara Tahlilan di makam selesai, acara kemudian di lanjutkan dengan makan bersama di rumah sesepuh desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam dusun. di rumah sesepuh dusun ini warga mendapat tausyiah oleh Ustad tentang pentingnya berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia. Karena kitalah, anak cucu mereka satu-satunya harapan mereka untuk mendoakan mereka agar mendapatkan tempat terbaik di sisiNYA.

Lebih lanjut Ustad mengajak semua warga untuk tetap melestarikan tradisi Nyadran ini, Karena Tradisi nyadran merupakan salah satu bentuk bakti kita kepada orang tua dan nenek moyang kita yang telah tiada, dengan cara mendoakan mereka.

3 komentar:

  1. Mendoakan orang tua, keluarga dan leluhur adalah perbuatan yang terpuji dan di anjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    BalasHapus