17 Juli 2015

Salat Idul Fitri 1436 H di Alun-alun utara Yogyakarta

Salat Idul Fitri 1436 H di Alun-alun utara Yogyakarta
Seperti empat tahun yang lalu, karena tanggung jawab di tempat kerja kembali tahun ini saya menghabiskan malam takbiran dan hari raya Idul Fitri pertama di Jogja, dan baru sore harinya bisa mudik ke Magelang. Melewati malam takbiran dan Salat Idul Fitri jauh dari keluarga bukan suatu hal yang mudah bagi yang sudah berkeluarga. Tapi karena sebuah tanggung jawab semua itu tetap harus di jalankan. 

Tadi pagi (17/07/2015) saya dan teman satu kerjaan memutuskan Salat Idul Fitri di Alun-alun utara Yogyakarta, karena  tempat kerja yang sekarang kebetulan tidak begitu jauh dari Alun-alun utara Keraton Yogyakarta, di mana di Alun-alun utara ini setiap tahunnya menjadi pusat pelaksanaan Salat Idul Fitri yang di hadiri oleh puluhan ribu umat Islam di Yogyakarta. Kami berangkat pagi-pagi sekali ke Alun-alun utara supaya tidak telat mengikuti Salat Idul Fitri di sana, Puluhan ribu umat Islam telah memenuhi Alun-alun utara bahkan sampai titik nol kilometer Yogyakarta saking banyaknya jamaah.

Khotib Salat Idul Fitri di Alun-alun utara Yogyakarta tadi pagi adalah Prof, Dr. HM. Din Syamsudin, salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia yang juga ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Selain Pak Din Syamsudin, Hadir juga Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Salat Idul Fitri di mulai tepat jam 07:00 dengan Imam KH. Ahmad Irfan. 
Salat Idul Fitri 1436 H di Alun-alun utara Yogyakarta
Dalam Khutbahnya Pak Din, menjelaskan bahwa puasa intinya adalah melatih kita untuk melawan hawa nafsu yang merupakan sebuah jihad akbar di bandingkan dengan jihad mengangkat senjata. Maka barang siapa berhasil dalam puasa Ramadhan, berarti dia telah berhasil berjihad yang sesungguhnya, yaitu berjihad melawan hawa nafsu.

Kalau dahulu bangsa Indonesia terkenal dengan sopan santun, tepo seliro, sesuai dengan ajaran yang di ajarkan oleh Rasullulloh. Tapi kini seriring dengan perkembangan jaman semua itu terkikis sedikit demi sedikit, Masyarakat lebih gampang tersinggung, gampang emosi, dan menempuh jalan kekerasan untuk memecahkan masalah. 

Karena itu beliau menyerukan bangsa Indonesia untuk kembali kepada ajaran agama, wawasan baru dalam kehidupan berbangsa yang merupakan wujud ajaran Islam yang berkemajuan, merdeka dari kebiasaan mementingkan diri sendiri, merdeka dari perasaan benar sendiri, merdeka dari sifat feodalisme, merdeka dari budaya mencela, merdeka dari budaya nepotisme, merdeka dari kebiasaan korupsi, merdeka dari budaya kekerasan, merdeka dari ketergantungan bangsa lain, merdeka dari rasa rendah diri dan merdeka dari kecintaan dunia fana. 
Salat Idul Fitri 1436 H di Alun-alun utara Yogyakarta
Semoga kita dan saya khususnya dengan berakhirnya Ramahan ini, bisa menjadi manusia yang merdeka dari hal-hal yang di sebutkan Pak Din Syamsudin dalam khutbahnya di atas dan memiliki wawasan baru dalam kehidupan berbangsa yang merupakan wujud dari ajaran Islam yang di bawa oleh Rosululloh SAW. Selamat Idul Fitri 1436 H, Mohon maaf lahir dan bathin, Taqabbalallhu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, Ja' alanallahu Minal Aidin walfaidzin. Kullu aam wa antum bikhair.

3 komentar:

  1. Selamat idul fitri mas Ikhsan.
    Mohon maaf lahir dan batin... :)

    BalasHapus
  2. wah lokasi tempat shalat iednya sama..
    ga ketemu kita.. hehe
    mohon maaf lahir dan batin mas

    BalasHapus
  3. Minal Aidin Walfaidzin, Mohon maaf lahir dan batin
    Yogyakarta untuk Indonesia yang lebih baik

    BalasHapus