Dari Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016

Untuk ke empat kalinya, sejak tahun 2010 Jagongan Media Rakyat di gelar kembali di Jogja National Museum Yogyakarta. Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 di selenggarakan oleh Combine Resource Institution yang bekerja sama dengan beberapa komunitas yang ada di Indonesia. JMR merupakan ruang pertemuan berbagai pihak untuk membahas isu-isu sosial kemasyarakatan dengan informasi sebagai mediumnya. Dengan semangat berkumpul, berbagi, bergerak, para penggerak komunitas di harapkan bisa memberikan kontribusi positif bagi perubahan sosial yang lebih baik.

Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016 ini berlangsung dari tanggal 21- 25 April 2016 melibatkan 30 lembaga dan komunitas, menghadirkan 51 diskusi dan workshop, 34 diskusi dan pemutaran film, dengan jumlah pengunjung mencapai 2500-an turut berpartisipasi selama JMR ini di gelar.

Menyuguhkan 25 isu bahasan yang di klasifikasikan ke dalam 3 klaster, yaitu inovasi, advokasi dan literasi. Tema Inovasi yang di angkat adalah perkotaan, kebencanaan, ekonmi kreatif dan teknologi informasi. Untuk Advokasi meliputi desa, lingkungan, heritage, hukum dan Ham, maritim, pertanian, masyarakat adat, perlindungan anak, difabel dan kesehatan. Sedangkan untuk issu Literasi meliputi jurnalisme, ekonomi mandiri, literasi media, media baru, seni, aktifisme sosial, penerbian independen.

Kemaren siang (23/04/2016) saya akhirnya bisa menginjakan kaki di Jogja National Museum yang ada di jalan Prof Amri Yahya, Yogyakarta. Mengikuti rangkaian acara Jagongan media Rakyat (JMR) 2016. Sebenarnya sudah dari  beberapa tahun yang lalu saya pengen ikut JMR ini, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, saya hanya bisa mengikuti acara JMR ini lewat sosial media saja. Karena JMR ini kebetulan pas di Jogja dan ada waktu luang, maka saya sempatkan untuk bisa hadir di acara JMR ini, belajar dari orang- orang hebat membangun Indonesia dari Komunitas yang mereka bangun.

Salah satu orang- orang hebat tersebut adalalah Mas Dhandy Dwi Laksono, beliau adalah penggagas komunitas Ekspedisi Indonesia Biru, berkeliling Indonesia dari Aceh sampai Papua selama setahun penuh, dengan hanya mengendarai sepeda motor tua. Mendokumentasikan kehidupan orang- orang pinggiran yang tidak tersentuh lajunya pembangunan.

Kata Mas Dhandy, masih banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang tetap mempertahankan cara- cara lama dalam kehidupannya sehari- hari di tengah gegap gempitanya kemajuan jaman. Salah satunya adalah kelompok masyarakat di Ciptagelar, Jawa barat. Masyarakat di sana menanam padi setahun hanya sekali, tapi hasil panennya bisa untuk stok selaama tiga tahun lamanya. Dan hukum adat di sana melarang beras hasil panennya untuk di jual.

Sangat kontras sekali dengan sistem bercocok tanam saat ini yang sudah moderen, setahun bisa panen sampai tiga kali tapi tetap saja tidak mencukupi. Selain pantangan menjual hasil panennya, menjual tanah juga hal yang tabu untuk di lakukan sejak nenek moyang mereka dulu.

Dan masih banyak pengalaman menarik lainnya yang mas Dhandy bagikan ke peserta JMR yang hadir dalam diskusi rembug prakarsa ' menjelajahi inisiatif, menganyam kemandirian komunitas. Selain Mas Dhandy, ada juga Mas M. Hatta dari radio Komunitas MGM FM Borobudur, Mbak Milla Rosinta, seorang penari dan koreografer profesional,  ada juga Mas John Mamba dari Credit Union Gemalaq Kemisiq.

Sebenarnya masih banyak diskusi dengan tema menarik yang sayang untuk di lewatkan, tapi karena harus kembali beraktifitas di tempat kerjaan, saya langsung pulang setelah acara Rembug Prakarsa selesai.

Bagi anda yang belum sempat hadir di JMR 2016 ini, silahkan merapat ke Jogja National Museum Gampingan, Yogyakarta. Karena hari ini adalah hari terakhir.

4 komentar:

  1. Halo Mas Ikhsan,

    Maturnuwun reportasenya, Mas, sangat menarik dan berharap bisa ikut gabung ke acara tersebut.

    Salam
    Goop

    BalasHapus
  2. Harusnya dwngan adanya axara kayak cf ini indonesia makin maju komunitasnya

    BalasHapus
  3. acara yang menarik mas
    saya malah baru tau ada acara semacam itu..
    semoga tahun depan bisa hadir dalam acara tersebut

    BalasHapus
  4. Sayangnya cuma ada di Jogja ya?
    kapan Jakarta ada acara keren kaytak gini

    BalasHapus