Pengalaman pakai Go-Jek di Jogja

Pengalaman pakai Go-Jek di Jogja dari Alfamart Tentara pelajar Sleman menuju Alfamart Hayam Wuruk Yogyakarta

Sudah lama Go-Jek masuk Jogja, setelah sebelumnya hadir di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Dengan berbagai tawaran yang menggiurkan seperti tarifnya yang relatif lebih murah di banding dengan tarif ojek konvensional. Misal untuk jarak tiga kilometer, ojek konvensional biasanya mengenakan tarif 15 ribu Rupiah, dengan Go-Jek kita hanya  dikenakan tarif 10 ribu rupiah saja. Walaupun tarif tersebut hanya di awal-awal saja, sekarang ini tarif Go-Jek tidak beda jauh dengan ojek konvensional.

Walau sekarang tarifnya tidak beda jauh, tapi karena mudah dan praktis karena hanya tinggal pesan lewat aplikasi di handphone bisa langsung terhubung dengan driver yang dengan cepat menjemput, Go-jek masih tetap jadi pilihan.

Karena ramainya testimoni positif tentang Go-Jek di media sosial, dan jalan-jalan Jogja sudah berseliweran driver Go-Jek hilir mudik mengantarkan penumpangnya. Akirnya sayapun ikut menggunakan aplikasi Go-Jek, Aplikasinya mudah di gunakan bahkan oleh orang  awam sekalipun. Lebih praktis karena  kita bisa top up Gojek Kredit via ATM, Mobile Banking, ataupun Internet Banking. Kita tidak perlu khawatir driver Go-Jeknya tidak punya uang kembalian.

Pertama kali menggunakan jasa Go-Jek dari Jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman  menuju Jalan Hayam Wuruk Yogyakarta, saya lihat untuk jarak yang lumayan jauh tersebut saya hanya mengeluarkan 14 ribu rupiah saja. Drivernya waktu itu bernama mas Dwi Cahyo Nugroho, orangnya ramah dan asyik, sepanjang perjalanan mas Cahyo banyak bertanya tenang asal usul saya, dimana saya bekerja dan lain sebagainya dengan bahasa Jawa alus.

Sebaliknya  sayapun bertanya tentang keseharian mas Cahyo sebagai driver Go-Jek,  Mas Cahyo selain menjadi pengemudi Go-Jek, juga nyambi kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.  Dengan menjadi pengemudi Go-Jek setiap harinya mas Cahyo bisa mengantongi duit 100ribu sampai 300 ribu rupiah, tergantung sepi ramainya penumpang. Biasanya di hari libur dan akhir pekan saat dia panen penumpang.

Semenjak adanya layanan jasa ojek online Go-Jek ini, banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi pengemudi Go-Jek, yang tadinya nganggur banyak yang beralih dengan menjadi pengemudi Go-Jek. Mereka yang masih karyawanpun banyak yang mengisi waktu luangnya selepas kerja dengan menjadi pengemudi Go-Jek. Salah satunya adalah  mas Agung, setiap harinya mangkal menunggu orderan pengguna Go-Jek di salah satu minimarket yang ada di jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman. Sebelum menjadi pengemudi Go-Jek, mas Agung ini adalah salah satu karyawan perusahaan telekomunikasi terkenal di Jogja.

Setelah beralih menjadi pengemudi Go-Jek penghasilannya lumayan cukup di banding saat dia masih di perusahaan telekomunikasi dulu, dan kerjanya terbilang cukup santai. Hanya mantengin Handphone, menunggu orderan masuk. Bahkan kalau lagi ramai, gajinya di tempatnya kerja dulu bisa di dapatkannya di Go-Jek dalam seminggu saja.

Dengan adanya jasa Ojek online seperti Go-Jek ini, tentunya bisa mengurangi jumlah pengangguran di tengah gelombang PHK massal di mana-mana. Bisa menjadi sambilan untuk menambah penghasilan setelah jam kerjanya selesai sebagai karyawan. Bagi penumpang seperti kami-kami ini adalah semakin banyak pilihan dengan tarif yang jelas, tidak perlu tawar-menawar harga, bayarnyapun bisa lewat Go-Jek Credit tidak perlu uang cash, lebih aman karena semua data pengemudinya tercatat di database Go-Jek.

3 komentar:

  1. Aku juga pernah sekali pake Gojek, mas. Soalnya kalo menurutku emang lebih praktis dan murah. Waktu itu dari Pasar Stan, Maguwo ke Habitat @ Hyarta di Jl. Palagan Tentara pelajar kalo gak salah. Cuma 21.000. Wah kalo pake ojek biasa bisa lebih, lumayan jauh soalnya.

    BalasHapus
  2. Kapan Klaten ada Gojek, mosok harus ke Jogja dulu untuk nyobain 😔

    BalasHapus