08 November 2016

Catatan dari seminar 7 keajaiban Rejeki bersama Ippho Santosa

Catatan seminar 7 keajaiban Rejeki bersama Ippho Santosa
Hari Minggu (06/11/2016) yang lalu, bertempat di Jogja Expo Center, saya mengikuti Seminar 7 Keajaiban Rejeki yang di bawakan oleh Ippho Santosa. Seminar ini terselenggara atas kerjasama Pegadaian Syariah dan ACT Foundation. Saya tau ada seminar 7 Keajaiban Rejeki ini mendadak sekali lewat postingannya Mas Ippho di Grup WhatsApp Ippho Santosa Jogja-Jateng sehari sebelumnya. Alhamdulillah, ada pemberitahuan beberapa saat setelah saya mendaftar, bahwa saya bisa ikut seminar 7 keajaiban Rejeki yang di adakan di JEC Hall Arjuna tersebut. 

Mas Ippho ini adalah salah satu motivator favorit saya, Tulisan-tulisan beliau di media sosial sangat inspiratif sekali persis seperti yang di sampaikannya dalam setiap seminarnya, Seperti beramal, berbhakti kepada orang tua dan ajakan untuk selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. 

Sebelum membawakan materi 7 keajaiban Rejeki Mas Ippho, menyampaikan sikapnya terkait dengan Aksi Damai 411. Aksi Damai bela Islam 411 ini sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia. hampir 2 juta orang berkumpul dalam satu tempat, tidak ada yang menyuarakan kejelekan agama dan etnis lain. Tidak ada taman yang rusak, bahkan ada peserta aksi yang membawa tanaman untuk mengganti tanaman yang rusak selama aksi damai tersebut, peserta berjalan dengan tertib tidak ada saling dorong, peserta aksi membawa kantong plastik mengambil sampah yang mereka temukan selama perjalanan dari Istiqlal ke Istana negara. Menurut Mas Ippho agama tidak akan hina karena di hina, tetapi kita diam saja saat agama kita di hina adalah sikap yang hina.

Mengawali materinya Mas Ippho mengatakan bahwa kesuksesan seseorang sangat di pengaruhi  oleh cara berpikirnya, dari berbagai penelitian menunjukan bahwa orang yang berpikir dengan otak kanannya akan lebih sukses daripada mereka yang  otak kirinya lebih dominan dalam menentukan suatu keputusan. Orang-orang yang otak kanannya lebih dominan biasanya fleksibel, bisa beradaptasi, inovatif, kreatif, impiannya besar. Menurut Mas Ippho lagi, semasa kanak-kanak kita lebih dominan otak kanannya di bandingkan otak kiri. oleh karena itu kalau kita punya anak jagan kebanyakan di larang, karena akan mematikan kreatifitas dalam berpikirnya, dan akan sangat berpengaruh dengan cara berpikirnya setelah mereka dewasa nanti. Cenderung kognitif, sangat realis, linier, anti dengan perubahan, sangat suka dengan keteraturan dan lain sebagainya.

Dalam hidup ini ada hukum kekekalan energi, yaitu sesuatu yang tidak bisa di hancurkan maupun di musnahkan. Bahkan hukum kekekalan energi ini juga pernah di sampaikan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist, Seluruh tubuh anak Adam akan musnah kecuali tulang ekor, yang darinya tubuh di ciptakan  dan di susun kembali. Berikan yang baik dan terbaik, karena akan ada balasannya baik di dunia dan tentunya di akhirat. Kalau kita tidak memetiknya atas kebaikan kita di dunia, anak cucu kita nantinya yang akan menerimanya. 

Selain berpikir dengan otak kanan, berbuat baik kita juga harus menyelaraskan sepasang bidadari dalam hidup kita  supaya kesuksesan lebih cepat di raih. Sepasang bidadari adalah pasangan kita, suami, istri, kedua orang tua kita. Mereka mesti ridlo, mesti berbakti kepada kedua orang tua, walaupun mereka beda keyakinan dengan kita sekalipun. Berbakti hakekatnya buat kita, akan kembali dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semua nianya harus benar, kalau niatnya tidak benar fadhilahnya tidak akan bekerja. 

Selain kepada suami atau istri, orang tua, kita juga harus menyelaraskan dengan anak kita, seperti salah satunya mengantarkan anak pertama kali masuk sekolah, sebagai bukti bahwa pendidikan anaknya lebih penting dari apapun. Bagi yang jauh dengan keluarga usahakan untuk selalu ngumpul, karena peran suami sangat di perlukan oleh anak maupun istri. Apabila kita fokus dengan keluarga Insya Allah rejekinya akan di mudahkan. 

Harta yang kita punya harus bergerak supaya nilainya naik, yaitu dengan bisnis, invesasi dan sedekah. Berbisnis bisa dengan buka usaha sendiri atau bermitra dengan dengan orang lain. Usaha di sektor properti yang dari tahun ketahun selalu bagus prospeknya. Bisa juga dengan investasi emas, Invesasi emas ini adalah cara paling mudah yang bisa kita lakukan, selain mudah juga tidak perlu modal besar untuk memulainya. Investasi emas bisa nabung di emas di Pegadaian Syariah yang sudah tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Tersedia mulai 5000an saja bisa beli emas. Idealnya setiap gajian belikan 7% dari gaji kita untuk beli emas. Karena emas yang akan menjaga kekayaan kita.

Investasi secara umum ada dua cara yaitu uangnya yang banyak atau waktunya yang banyak. Rutinkan  nabung emas tiap bulan, tiga atau lima tahun lagi baru di ambil apabila ada keperluan.  Daripada ikut asuransi mendingan uangnya di belikan emas atau properti karena sudah terbukti aman. Pengen umroh atau haji nabung saja emas baru setelah mencukupi untuk pergi umroh maupun haji. 

Sedekah mengayakan dan menyehatkan, sedekah menambahi bukan mengurangi. Kalau orang kaya harus sedekah orang miskin wajib hukumnya sedekah. Bahkan Allah SWT sendiri menyatakan belilah kesulitan kita dengan bersedekah. Pancing rejeki dengan bersedekah. Bersedekah bisa dari yang terkecil dahulu, kalau belum bisa yang besar. Berharap dengan sedekah kita di perbolehkan selama itu berharap sama Allah SWT. Sedekah juga boleh di lakukan dengan terang-terangan sebagai syiar.  Idealnya sedekah adalah 15%, bahkan sahabat nabi sedekah 30%, Umar Bin Khatab sedekah 50% dan Abu Bakar sedekah 95% dari penghasilannya setiap bulan. 

Dalam sesi terakhir seminarnya Mas Ippho mengingatkan kepada peserta yang hadir bahwa apapun targetnya jangan lupa Ikhtiar, berdoa dan Beramal. Seminar di tutup dengan donasi dari peserta seminar yang akan di salurkan lewat ACT Foundation untuk membangun sekolah-sekolah di pelosok negri. Dalam kesempatan tersebut Mas Ippho juga melelang 2 buah Alquran yang masing-masing laku 8 juta Rupiah. 

0 komentar:

Poskan Komentar