Atasan vs bawahan


Siapa harus ngertiin siapa?

Pertanyaan itu timbul dalam benak saya ketika mendengar percakapan 2 orang teman. Yang satu mengeluhkan bahwa dirinya sebagai bawahan merasa telah all out bekerja dan sang atasan tanpa kontribusi apa-apa tinggal tanda tangan. Lalu kamu berharap bagaimana?, penasaran saya ikut nimbrung. Ya yang namanya atasan kan dia yang seharusnya mengarahkan saya, memberikan kepada saya konsep apa saja yang harus saya lakukan, arahnya ke sini atau ke sana. Istilahnya dialah otaknya, saya ya sesuai jabatan yang saya sandang saat ini, pelaksana!, demikian jawabnya. Yah maksud kamu sesuai juga dengan gaji kamu kan? hehe, saya mencoba mencairkan suasana. Memang, ketika reformasi birokrasi dimulai dan salah satu efeknya adalah kenaikan remunerasi pegawai di departemen kami, isu atasan, bawahan, belum lagi grade, jadi perbincangan hangat yang gak habis-habis.

Kembali ke siapa harus ngertiin siapa?

Teman kedua menimpali, ya kalau begitu kan kamu aja yang pintar-pintar memposisikan diri. Kalau memang dia gak pernah kasih konsep, buat oret-oretan konsep kamu, tanya pendapatnya. Kalau mau jahil, buat seasal-asalnya, biar dia juga ikut mikir. Tapi sebenernya kalau kamu bisa buat konsep yang bagus, kan ada kepuasan batin juga, iya gak?!
Saya hanya manggut-manggut mengamini uraiannya. Kalau sudah masalah kepuasan batin, sulit diukur sama saldo di rekening remunerasi. Falsafah rezeki sudah ada yang mengatur jadi penghibur, kalau tidak dapat disebut pembenaran.

Lalu, dimana bagian siapa harus ngertiin siapa?

Teman pertama seperti gak mau kalah melanjutkan, kamu sih enak... kompak banget sama atasan, kayaknya ga ada masalah tuh.
Sontan sang teman tertawa... lah... itu kan saya yang harus berjuang keras mendapat kepercayaannya! Saya dan teman-teman saya yang harus menyesuaikan diri dengan dia, bukan dia yang berusaha ngertiin kami... Yah ga usah dimasukin ke hati lah... it's just a job... Kalau mau nyakit-nyakitin diri sendiri sih bisa aja... kalau membandingkan sama atasan sebelumnya... dia kalau nyuruh saya haluuuusss banget... mbak, mas, bos, tolong ya saya dibuatkan ini... mbak, mas, bos, tolong jangan lupa ya, nanti ada ini... sedangkan yang sekarang?!, dia tidak melanjutkan.

Hening...
Mungkin saya yang terlalu membesar-besarkan masalah ini. Bagi saya, menjadi atasan adalah suatu amanat, bukan hadiah apalagi hak. Di situ diletakkan beban tidak hanya pekerjaan, namun juga anak buah yang nota bene manusia. Menurut saya, manusia inilah yang paling berat pertanggungjawabannya. Idealnya di bayangan saya, seorang atasan itu layaknya koordinator tanpa harus bersikap bossy. Dia mampu merangkul dan memotivasi anak buahnya untuk bekerja layaknya sebuah tim. Bahwa bila pekerjaan ini selesai dengan sukses, ini adalah kerja keras kita semua, dan dia sebagai seorang pimpinan akan memastikan bahwa seluruh anak buahnya yang telah berkontribusi itu menerima reward-nya - dalam bentuk apapun itu. Wah wah wah... ideal sekali! Hehe, saya memang senang berkhayal.

Ndilalah keesokan harinya saya mendengar perbincangan dua seorang senior. Tidak perlu diceritakan panjang lebar di sini karena saya harus mulai kerja, namun kesimpulannya... Orang pintar dengan gelar S3 belum tentu punya kemampuan manajerial yang baik terhadap anak buah. Dia bisa jadi lebih unggul dalam menyelesaikan pekerjaannya. Namun kemampuan membina, merangkul, dan memotivasi anak buah itu lebih pada kemampuan bawaan sejak lahir yang terus diasah dengan pengalaman.

Hmmm... nyambung gak sih potongan-potongan percakapan di atas?
Mungkin memang gak nyambung, tapi kalau boleh saya tarik hikmahnya (walaupun maksa!) :

1. Amanat sebagai atasan itu bukan berarti kamu bisa nyuruh-nyuruh anak buah seenaknya. Komunikasi itu penting, apa salahnya sih duduk bersama dengan anak buah ngobrol apa yang menjadi tujuan bersama. Let them know bahwa kamu sangat menghargai setiap upaya mereka. Let them see bahwa kamu yang in charge - bukan dengan kata-kata, tapi dengan sikap yang tegas namun bersahaja (ini dari sudut pandang pengalaman saya sebagai bawahan, karena belum pernah jadi atasan. Memang, berpendapat itu memang gampang, tidak seperti pelaksanaannya!).

2. Kemampuan manajerial itu bisa diasah. Please, atasan, dengan jumlah remunerasi yang kamu terima demikian jauh di atas kami, modal sedikit lah untuk meningkatkan kemampuan itu, terutama dalam hal manajemen manusia.

3. Jadi, siapa harus ngertiin siapa? Sama-sama ajalah... atasan juga manusia, bawahan juga manusia... Sementara sebagai bawahan, this might help you : berprasangka baik! Kembali lagi ke pendapat seorang teman di atas, it's just a job... Mengingat "kalimat cinta" seorang teman dulu, " biarkan ia dalam genggamanku, bukan dalam hatiku"

Di ambil darihttp://one-at-a-time.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar