02 Februari 2012

Mengunjungi Kelenteng Liong Hok Bio Magelang


Beberapa hari yang lalu selepas Imlek saya mengunjungi Kelenteng Liong Hok Bio di alun-alun selatan Magelang, bukan sedang merayakan Imlek ataupun mengharap Angpao :), saya tertarik dengan Kelenteng Liong Hok Bio karena sebagai tempat peribadatan orang-orang keturunan Tiong Hoa, Kelenteng ini sudah di bangun lebih dulu dari Masjid Agung Magelang yang berada di sebelah barat alun-alun Magelang

Kesibukan setelah Imlek masih keliatan ketika saya masuk melihat-lihat suasana Kelenteng, masih banyak juga orang-orang yang berkunjung untuk melakukan sembayangan,ada pak Heru dari pengurus Kelenteng yang dengan senang hati menjelaskan sejarah dari Kelenteng Liong Hok Bio di Magelang,dan tak lupa menjamu saya dengan beraneka makanan khas Imlek, saya sendiri kurang tau apa namanya ada semacam kerupuk,kacang,kwaci dan lain sebagainya yang kesemuanya di letakkan di toples berpita merah. karena banyak bertanya mengenai keberadaan Kelenteng saya di kira warwawan oleh pak Heru..hehe, karena kalau menjelang dan sesudah Imlek selalu banyak wartawan yang datang.

Tak banyak cerita yang saya dapat dari pak Heru tentang sejarah keberadaan Kelenteng Liong Hok Bio, Pak Heru hanya menunjukan sebuah papan tulis yang menceritakan sejarah keberadaan Kelenteng Liong Hok Bio yang di tulis oleh Liem Tjay An Tri Budaya no 96/97, Jan. Feb. 1962 .Pengirim artikel: F. B. Yuwono – 2003

Kelenteng Liong Hok Bio didirikan oleh  Kapitein Be Koen Wie pada tahun 1864. Kapitein Be Koen Wie merupakan salah saudagar kaya yang di percaya oleh Belanda pada waktu itu, sekitar tahun 1740 banyak warga keturunan Tiong Hoa di Batavia yang di bunuh dan di rampok harta bendanya. sebagian warga keturunan yang selamat melarikan diri dari Batavia menuju Semarang, tepatnya di kampung Klangkong Jono.

Mereka tinggal di kampung Klangkong Jono dengan berdagang, membuat terasi dan bertenun. sekitar tahun  1825 terjadi perang Diponegoro, tak ketinggalan orang-orang keturunan Tiong Hoa tersebut ikut juga berperang, berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah yang lainnya. setelah perang Diponegoro berakhir sekitar tahun 1830 salah seorang keturunan Tionghoa bernama Tjok Lok  dari Solo di angkat menjadi letnan oleh Belanda dan di pindahkan ke Magelang. setelah sekian lama pangkatnya di naikkan menjadi Kapten. karena sudah menjadi orang kaya raya di Magelang dia menghadiahkan sebidang tanah yang sekarang letaknya di sebelah selatan alun-alun Magelang untuk di bangun sebuah Kelenteng yang di beri nama Liong Hok Bio.

Selain sebagai tempat ibadah Kelenteng Liong Hok Bio juga menjadi tempat pernikahan,perayakan tradisi keturunan Tionghoa. untuk mengetahui lebih lanjut sejarah keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa di Magelang silahkan baca DISINI

29 komentar:

  1. your post is nice.. :)
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. :)

    BalasHapus
  2. Jalan-jalan pertama, salam kenal mas ;-)

    Tuker link yaa..

    BalasHapus
  3. aku suka foto ke empat, seolah membentuk labirin dan terkesan gimana gitu :)

    BalasHapus
  4. masih di sukabumi mas?
    lama ngak main ke sini eh

    BalasHapus
  5. Hi, I want to subscribe for this website to take most up-to-date updates, thus where can i do it please help out.
    My web site :: antivirus mac

    BalasHapus
  6. @ Ulie : salam kenal kembali mbak :)
    @ Jarwadi : ah biasa aja mas
    @ Soewoeng : sudah pindah mas, sekarang di Sleman :)

    BalasHapus
  7. wah, bagus mas reportasenya.. saya malah belum pernah kesana.. hehehe

    BalasHapus
  8. kemaren pas kebetulan aja lewat alun2, pas abis imlek :)

    BalasHapus
  9. Lho boleh masuk tho? wah kirain kawasan "Terlarang" sempet terbersit niat mampir cuma diurungkan :D

    BalasHapus
  10. boleh, katanya terbuka untuk wisatawan kok

    BalasHapus
  11. woh, boleh toh... bisa ini bisa :D

    BalasHapus
  12. Keren kelentengnya, Mas..
    Pengen mampir kalau ke Magelang..

    BalasHapus
  13. @yuud :boleh dan bisa :))
    @giewahyudi: kapan ke Magelang mas :)

    BalasHapus
  14. pensaran dengn klentengnya mas..hehe..
    next time klo ke magelang tengok..hehehe

    BalasHapus
  15. Huwaaa dibangun lebih dulu dibanding Masjid Agung Magelang? Keren yaaaa

    BalasHapus
  16. belum pernah sekalipun masuk kelenteng hehhehe...bagus yaaaa

    BalasHapus
  17. Balasan
    1. mudik to mbak, bentar lagi kan lebaran hehe

      Hapus
  18. wow..
    lampion ya itu nama lampunya?

    terang euy.. :)

    BalasHapus
  19. Sekarang lebih besar dan megah, semakin menunjukan bahwa etnis ini sangat dominan

    BalasHapus
  20. wah orang magelang... *salim dulu ah... sesama magelang*
    ane dah pernah masuk ke klenteng ini... emang keren interiornya :jempol

    BalasHapus
  21. @aditya salam kenal kembali, menjelang Imlek makin rame aja di sini

    BalasHapus
  22. Gong Xi Fat Cai - Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang

    BalasHapus
  23. rame ndak yo, imlek di Magelang tahun ini?

    BalasHapus
  24. Sangat di sayangkan Klenteng dengan umur ratusan tahun, cagar budaya bisa terbakar begitu saja. harusnya bisa di antisipasi terlebih dahulu, kalau terjadi kebakaran tidak sampai menghanguskan klenteng yang merupakan cagar budya. salah satu warisan nenek moyang kita yang tidak bisa di nilai dengan materi.

    BalasHapus